M Galang Pratama

KATAMU,  hujan akan turun malam ini. 


Akan deras sekali, hingga membikin tubuhmu menggigil. 

Alangkah bergetar bulu kudukku, aku baru saja menutup telepon darimu, hujan turun seketika. Deras. 

Sangat deras.

Aku mencoba meneleponmu kembali. Kucari namamu di kontak. 

S uwan ​​ti. 

Dapat.

(tiiiik .. tiiiiik ... nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan .. ....)

***

Kau hidup di tengah-tengah kawasan perdesaan. Jauh sekali dari arus komunikasi dan dunia maya. 

Keseharianmu diisi dengan menyapa tetangga, membicarakan hal yang sebetulnya bisa dipercaya dan sekaligus juga tidak bisa diterima akal sehat.

Kamu pernah bercerita tentang kisah kucing tanpa ekor yang tengah ramai diperbincangkan di sekitaran Kiringsapua, sebuah daerah yang dihuni sekitar 50 kepala rumah tangga. 

Daerah yang mempercayai pohon bidara, sebuah pohon yang ditawarkan untuk sebagian besar masyarakat sebagai tanaman pengusir makhluk halus.


"Kucing tidak berekor yang tidak dapat uang, tetapi dia dapat keperawanan wanita muda di sini," katamu, "dan dia bisa berubah jadi lelaki berwajah rupawan penuh kharisma, jadi perempuan mana pun tidak akan bisa mengganti kompilasi di mana saja mencari uang yang dicari."

Aku yang mendengar kisah haru itu lantas berpikir dalam hati. Jangan jangan ini ....

***

Kau memotong pembicaraanku di telepon. Tiba tiba kamu matikan panggilanku kompilasi aku asyik berbicara tentang kerja kerasku bulan ini. 

Kembali kuketik nomor teleponmu lalu kutekan 'hubungi lagi'.

 ... ... .... (tiik ... tiiik ... nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan ... ....)

Kau masih belum menjawab. Aku jadi gelisah. Pikiranku seketika kaluterbaiki tanda tanya. Kau hilang bagai ditelan angin. 

Di jembatan kembar yang tak jauh dari rumah, aku menulis sajak. Satu demi satu kompilasi sajak itu selesai kutulis, aku lantas membuang kertasnya ke bawah aliran sungai di bawah jembatan itu. Mataku udara tak sanggup menahan perih. 

Karena mendengar kabar yang kau katakan tentang dirimu di jembatan ini, hatiku ingin setiap saat berada di sini. Berkomunikasi denganmu saat itu hanya bisa kulakukan dengan menulis rangkaian kata kata puitis. Itu menyenangkanmu, bukan?

Tiba tiba seseorang yang bukan kukenal datang dari ujung jembatan. Perlahan langkah-langkah mendekatiku. Dari jauh ia terlihat seperti perempuan. Agak kukenali dari cara jalannya.

Rambutnya putih dan berkacamata. Saat sampai di depanku ia lalu membungkuk sambil menunjuk sungai yang tepat berada di bawah kami. 

"Nak, 23 tahun lalu perempuan yang menghasilkan di sini. Tapi karena sudah tidak jelas, ia lalu membuang bayinya ke sungai. Aku hanya bisa menolong perempuan itu, Nak."

"Nenek tahu siapa nama perempuan itu?"

"Su .. Su .. Su..su .. wan .."

***

Sebuah bayangan baru saja melewatiku. Aku yakin orang itu sekarang tepat di belakangku. Nenek tua itu tidak bisa melanjutkan kata katanya, ia seketika bisu dan anehnya nenek itu langsung melompat dari jembatan. 

Di akhir kata katanya aku sempat mendengar dia berkata ... ti, sebelum akhirnya suaranya hilang. Aku berbalik arah. Seorang lelaki melangkah cepat menjauhi tubuhku. 

Tubuhku seketika tak mampu bergerak. Kepalaku melepaskan tanda tanya. Antara ingin melanjutkan tidur atau langsung menuju kamar kecil untuk melanjutkan.


Januari, 2018
(M. Galang Pratama)


Sumber Gambar : Pixabay.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku

Buku
Books